Cagar Alam Muara Kaman Sedulang
Sejarah dan Dasar Hukum/ Status Kawasan
Cagar Alam (CA) Muara Kaman Sedulang ditunjuk sebagai kawasan CA melalui SK penunjukan Gubernur Kalimantan Timur Nomor : D.8-130/W-EK/1975 tanggal 11 Maret 1975 seluas 62.500 ha dan SK Mentan Nomor : 290/Kpts/Um/5/1976 tanggal 10 Mei 1976. Kemudian ditetapkan melalui SK Menhut Nomor : 598/Kpts-II/1995 tanggal 2 November 1995 seluas 64.700 ha. Ditata batas pada tahun 1991 dengan total panjang batas ±259.240 km dengan realisasi panjang tata batas ±259.240 km. Rekonstruksi tata batas telah dilakukan pada tahun 2000.
CA Muara Kaman ditetapkan sebagai Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi melalui SK Menteri KLHK nomor : SK. 728/menlhk/Setjen/PLA.0/9/2016 tanggal 20 September 2016 tentang Penetapan Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi Muara Kaman Sedulang, terletak di Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur seluas ±65.445 ha.
Letak/ Lokasi
CA Muara Kaman Sedulang merupakan salah satu kawasan hutan yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi di wilayah Kalimantan Timur. Berdasarkan pembagian administrasi pemerintahan, kawasan ini termasuk dalam tiga kecamatan dan dua kabupaten yaitu Kecamatan Muara Kaman Sedulang (seluas 17.520,78 Ha) di Kabupaten Kutai Kartanegara serta Kecamatan Muara Bengkal (seluas 23.808,43 Ha) dan Kecamatan Muara Ancalong (seluas 21.170,79 Ha) di Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim, 2012).
CA Muara Kaman Sedulang memiliki luas sebesar 64.700 ha dan ditetapkan melalui SK Menhut Nomor: 598/Kpts-II/1995 tanggal 2 November 1995 seluas 64.700 ha. Ditata batas pada tahun 1991 dengan total panjang batas ±259.240 km dengan realisasi panjang tata batas ±259.240 km. Rekonstruksi tata batas telah dilakukan pada tahun 2003. Secara geografis CA ini terletak di antara 0° 25’ 50” LU - 0° 10’ 00” LS dan 116° 38’ 00” -116° 50’ 00” BT.
Tipe Ekosistem
CA Muara Kaman Sedulang memilki empat tipe ekosistem, yaitu ekosistem hutan dataran rendah, ekosistem lahan basah, ekositem gambut dan ekosistem kebun campuran. Keempat ekosistem tersebut tersebar di kedua sungai yaitu sungai Kedang Kepala dan sungai Kedang Rantau.
Potensi flora dan fauna
Keanekaragaman jenis tumbuhan dan sebaran masing-masing jenis tumbuhan berbeda-beda pada setiap lokasi. Secara umum jumlah jenis pohon yang ditemukan pada wilayah Sungai Kedang Kepala lebih banyak dibandingkan dengan wilayah Sungai Kedang Rantau. Hal ini terjadi karena secara umum wilayah Sungai Kedang Kepala memiliki ekosistem hutan lahan kering yang lebih luas dibandingkan dengan Sungai Kedang Rantau yang lahannya cenderung didominasi oleh ekosistem rawa. Sementara untuk jenis pohon pada ekosistem hutan rawa lebih banyak ditemukan di wilayah Sungai Kedang Rantau dibandingkan di wilayah Sungai Kedang Kepala.
Kawasan CA Muara Kaman Sedulang memiliki kehadiran jenis sebanyak 97 jenis pohon dan 67 jenis tumbuhan bawah. terdapat beberapa jenis tumbuhan tingkat pohon yang memiliki status keterancaman terhadap kepunahan berdasarkan IUCN Redlist Species. Jenis yang termasuk dalam kategori kritis (Critically Endangered, CR) ditemukan sebanyak 1 jenis, yaitu Meranti merah (Shorea johorensis) kemudian terdapat sebanyak 3 jenis yang rentan terhadap kepunahan (Vulnerable, VU), yaitu jenis Elai (Durio kutejensis), Pasang (Quercus gaharuensis), dan Semecarpus trengganuensis. Untuk jenis tumbuhan yang memiliki status mendekati ancaman kepunahan (Near Trheatened, NT) ditemukan sebanyak 1 jenis, yaitu Pacar Cina (Aglaia odorata). Pada kawasan ini juga ditemukan jenis Bangeris (Koompassia excelsa) yang secara local memiliki peran yang sebagai pohon tempat bersarang lebah madu. Pada beberapa tempat jenis ini dilindungi secara adat yang disepakati secara komunal. Oleh karena itu, IUCN menempatkan pada status Conservation Dependant (CD).
Kawasan CA Muara Kaman Sedulang didominasi oleh ekosistem sungai yang sekaligus menjadi batas alami CA Muara Kaman Sedulang, yaitu Sungai Kedang Kepala dan Sungai Kedang Rantau yang bersatu menjadi Sungai Mahakam tepat di sebelah selatan wilayah CA Muara Kaman Sedulang. Masing-masing ekosistem sungai tersebut memiliki keanekaragaman jenis burung yang cukup tinggi. Terdapat 3 kelas satwa yang ditemukan, yaitu kelas aves (burung), mamalia, dan herpetofauna, yang terbanyak dari kelas aves, sedangkan untuk mamalia dan herpetofauna sangat sedikit.
Di CA Muara Kaman Sedulang terdapat 20 (dua puluh) jenis mamalia dari 15 famili. Bekantan dan Lutung kelabu merupakan jenis yang dilindungi. Bekantan ditemukan secara langsung di sempadan Sungai Kedang Kepala dan Sungai Kedang Rantau. Secara umum, bekantan merupakan mamalia kelompok primata yang memiliki jumlah populasi paling banyak dibandingkan dengan primata lain yang ditemukan di kawasan CA Muara Kaman Sedulang.
Di CA Muara Kaman Sedulang diketahui terdapat 101 jenis burung. Untuk status ancaman kepunahan diketahui terdapat 7 jenis mendekati ancaman kepunahan (Near Threatened), dan 1 jenis rentan terhadap kepunahan (Vulnerable, VU) dan 1 jenis genting (Endangered). Dari keseluruhan jenis burung yang ditemukan juga terdapat 5 jenis burung yang termasuk dalam daftar CITES Appendix II.
Cagar Alam Muara Kaman Sedulang ditemukan 23 jenis herpetofauna yang terdiri dari 10 jenis amfibi dan 13 jenis reptil. Amfibi merupakan kelompok herpetofauna yang terdiri dari kodok dan katak, sementara reptil yang tercatat terdiri dari kelompok ular, kadal, buaya, dan kura-kura.
Potensi satwa kelompok serangga pada kawasan Cagar Alam Muara Kaman Sedulang meliputi serangga kelompok Kupu-kupu (Ordo Lepidoptera) dan kelompok Capung (Ordo Odonata). Dua kelompok serangga ini merupakan serangga yang relatif mudah dijumpai pada berbagai tipe tutupan lahan.
Jenis Tanah dan Geologi
Kawasan CA Muara Kaman Sedulang yang merupakan bagian dari Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Timur memiliki struktur geologi yang berumur antara pratertier hingga kwarter. Formasi geologi ini memiliki luas 667,05 km² yang terdiri dari batu serpih kristalin, phylit, batu sebak, serpih liat, batu napal, batu gamping dan batu eruftif asam sampai basa. Pada zaman tertier terbentuk batuan paleogen, Pamaluan Beds, Palaubalang Beds, Kutai Beds, Kampung Baru, dan Dumaring Beds. CA Muara Kaman Sedulang termasuk dalam Formasi Pamaluan (Pamaluan Beds) yang terdiri dari batu pasir, batu opsir, dengan sisipan batu liat dan serpih. Secara fisiografi, kawasan ini termasuk dalam kelokan sungai (Meander belt) yang merupakan jalur meander sungai yang mempunyai tanggul sungai yang lebar.
Tipe Iklim, curah hujan, ketinggian/topografi
Kawasan CA Muara Kaman Sedulang mempunyai tipe iklim A berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt-Fergusson. Kawasan ini masuk dalam kategori sangat basah. Jumlah bulan basah (curah hujan ≥ 100 mm) lebih besar dari bulan kering (curah hujan ≤ 60 mm). Iklim di wilayah ini sangat dipengaruhi oleh iklim tropis basah yang dicirikan dengan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun dengan penyebaran yang relatif merata. Secara umum curah hujan tertinggi pada wilayah Kutai Kartanegara tahun 2018 terjadi pada bulan Januari sebesar 306 mm dan 18 hari hujan. Curah hujan terendah pada bulan Agustus sebesar 74 mm dan 5 hari hujan (dishub.kukarkab.go.id.). Wilayah Kutai Timur memiliki curah hujan tahunan 2.000 - 4.000 mm/tahun, dengan rata-rata 130 - 150 hari hujan/tahun (kutaitimurkab.go.id). Hujan tertinggi pada bulan Desember sebesar 606 mm dan 19 hari hujan, dan curah hujan terendah pada bulan Oktober sebesar 47 mm dan 4 hari hujan (kutimkab.bps.go.id). Secara keselurahan kawasan CA Muara Kaman Sedulang memilki kisaran curah hujan 1.900 - 2.400 mm/tahun.
CA Muara Kaman Sedulang memiliki ketinggian <2000 mdpl. CA Muara Kaman Sedulang sebagian besar memiliki kelerengan 0-8 % yang mana masuk kedalam kategori datar. Sedangkan wilayah yang masuk kedalam kategori sangat curam (>40%) hanya sebagian kecil di sebelah barat CA Muara Kaman Sedulang yang berbatasan dengan Sungai Kedang Kepala.
Gejala/fenomena alam, Obyek daya tarik wisata, Keberadaan situs sejarah
Kawasan CA Muara Kaman Sedulang memiliki lahan rawa gambut. Dimana gambut dinilai sebagai habitat lahan basah yang mampu menyerap (sequester) dan menyimpan (sink) karbon dalam jumlah besar sehingga dapat mencegah larinya gas rumah kaca (terutama CO2) ke atmosfer bumi yang dapat berdampak terhadap perubahan iklim global. Kebakaran di lahan gambut juga akan melepaskan gas rumah kaca ke atmosfer seperti metana (CH4), yaitu jenis gas rumah kaca yang 21 kali lebih berbahaya dari pada karbon dioksida (CO2) karena kemampuan menahan panas yang lebih tinggi. Tidak hanya lebih berbahaya, metana yang terlepas akibat dari kebakaran lahan gambut jumlahnya bisa mencapai hingga 10 kali lipat lebih banyak dari pada kebakaran di jenis lahan lain.
Aksesibilitas menuju Kawasan
Kawasan CA Muara Kaman Sedulang dapat ditempuh dari Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Timur dengan kendaraan roda 2 maupun roda 4 dan dilanjutkan dengan menggunakan perahu (dari Kecamatan Muara Kaman). Fasilitas jalan berupa jalan dengan kondisi baik. Untuk dapat mencapai lokasi terdekat dalam kawasan CA Muara Kaman Sedulang dapat ditempuh melalui 2 rute yaitu:
- Samarinda – Kec. Muara Kaman Kabupaten Kutai Kartanegara dengan jarak tempuh ± 126,3 km dan waktu tempuh ± 3 Jam 44 menit (kendaraan bermotor).
- Samarinda - Kec. Muara Bengkal Kabupaten Kutai Timur dengan jarak tempuh ± 180,5 km dan waktu tempuh ± 4 Jam 55 menit (kendaraan bermotor).
Sosial ekonomi dan budaya
CA Muara Kaman Sedulang terletak di dua Kabupaten yaitu Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Timur dan tiga kecamatan (Muara Kaman Sedulang, Muara Bengkal, dan Muara Ancalong). Cagar alam ini memiliki batas alam berupa dua sungai yang membatasi kawasan cagar alam dengan desa-desa penyangga yang ada di sekitarnya. Terdapat tiga belas desa penyangga yang berada di sekitar CA Muara Kaman Sedulang.
Kepadatan penduduk di desa-desa penyangga CA Muara Kaman Sedulang menurut klasifikasi kepadatan penduduk adalah tidak padat karena tingkat kepadatannya berada 1 – 50 Km²/jiwa. Rendahnya kepadatan penduduk salah satunya dipengaruh oleh faktor ekonomi dimana masyarakat desa mata pencahariannya sebagai nelayan dan lebih banyak hidupnya di pinggir sungai Kedang Kepala dan Kedang Rantau
Secara umum masyarakat yang tinggal di desa-desa penyangga kawasan CA Muara Kaman Sedulang memeluk agama Islam. Agama lain yang dianut oleh masyarakat dengan jumlah yang relatif sedikit adalah Kristen Protestan, Kristem Katolik dan Hindu. Adanya penyebaran agama islam di kerajaan Kutai yang melatarbelakangi islam merupakan agama mayoritas dipeluk oleh masyarakat.
Secara umum masyarakat yang bermukim pada wilayah desa-desa penyangga kawasan CA Muara Kaman Sedulang memiliki mata pencaharian utama sebagai nelayan pencari ikan sungai dan petani ladang. Seiring berkembangnya situasi pada masing-masing desa, masyarakat beradaptasi dengan peluang ekonomi yang ada. Sebagian warga kemudian ada yang berganti mata mencaharian menjadi karyawan perusahaan (tambang, kebun sawit dan HTI) seiring hadirnya perusahaan yang berkembang pada masing-masing desa. Mata pencaharian sebagai nelayan dan petani biasanya masih digeluti oleh para orangtua, sementara generasi muda saat ini lebih banyak menjadi karyawan perusahaan atau menjalankan usaha lain. Walaupun demikian, masyarakat secara umum juga tetap memiliki lahan garapan berupa kebun maupun alat tangkap ikan berupa perahu ketinting.
Jenis pekerjaan masyarakat yang bermukim di desa-desa penyangga kawasan CA Muara Kaman Sedulang diantaranya adalah PNS, staff desa, guru, buruh harian, pedagang, penyedia jasa perjalanan (travel), taxi sungai, karyawan perusahaan dan beberapa sektor pekerjaan lainnya. Usaha-usaha yang umumnya digeluti warga diantaranya pedagang kelontongan, warung makan, warung sembako, maupun warung kecil lainnya yang menjual sayuran dan kebutuhan konsumsi. Selain sebagai mata pencaharian utama, masyarakat yang bermukim di desa-desa penyangga kawasan cagar alam juga memiliki mata pencaharian sampingan sebagai petani walet, pemilik usaha penginapan, pemiliki kebun plasma, pemilik keramba ikan, dan lain-lain. Usaha sampingan memiliki sarang-burung walet merupakan salah satu usaha yang cukup menjanjikan pada seluruh desa penyangga kawasan CA Muara Kaman Sedulang.
Hubungan kekerabatan antar desa masih sangat tinggi, hal ini dibuktikan dengan sejarah di masing-masing desa terutama di Kecamatan Muara Kaman, antar desa masih ada sejarah kebersamaan baik antar dusun ataupun antar desa. Beberapa masyarakat masih ada keterkaitan keluarga walaupun berbeda desa karena masih memiliki ikatan saudara dengan keluarga lainnya yang disebabkan karena kesamaan orang tua maupun karena pernikahan. Interaksi warga dengan masyarakat luar sudah cukup terbuka dan relatif tinggi. Hal ini disebabkan oleh terbukanya akses, terutama jaringan jalan dan masuknya perusahaan (terutama perusahaan tambang batubara dan perkebunan kelapa sawit) ke wilayah desa-desa. Pada desa-desa di Kecamatan, interkasi dengan masyarakat luar memiliki intensitas yang lebih tinggi. Hal tersebut dikarena posisi desa yang berdekatan dengan pusat pemerintahan kecamatan, akses jalan poros kabupaten dan banyaknya pendatang yang bekerja pada perusahaan yang juga masuk ke wilayah desa dari sejak lama.
Pada 13 (tiga belas) desa sekitar kawasan CA Muara Kaman Sedulang, kategori masyarakat adat yang tinggal secara turun temurun menetap sudah tidak ada, lembaga adat tersedia di pemerintahan desa yang sengaja dibentuk sebagai persyaratan desa. Walaupun pemangku adat asli sudah tidak ada, masyarakat masih memegang teguh kebiasaan dan adat istiadat yang diturunkan oleh nenek moyang seperti:
- Acara adat Belian (pengobatan),
- Seni tarian “Jepen”
- Seni musik “Tingkilan”
- Acara “CERAU” di Muara Kaman dan
- Kegiatan gotong royong.
Kepatuhan terhadap norma susila masih berlaku ketat di desa-desa ini. Untuk desa-desa yang berada di wilayah Kecamatan Muara Ancalong, Muara Bengkal dan Muara Kaman masih memegang teguh adat istiadat dan tradisi yang dimiliki nenek moyang
Permasalahan kawasan
Potensi konflik yang kemungkinan akan timbul sebagai akibat dari adanya interaksi antara masyarakat dengan keberadaan CA Muara Kaman Sedulang adalah sebagai berikut:
- Perambahan lahan CA Muara Kaman Sedulang dimungkinkan semakin meluas terutama untuk pemukiman dan perladangan. Selain itu Pembangunan rumah walet juga berkontribusi dalam pengurangan keutuhan dan ekosistem alami kawasan Cagar Alam Muara Kaman Sedulang.
- Lemahnya penegakan hukum terhadap pengambilan ikan dengan alat tangkap Listrik dapat merusak ekosistem perairan.
- Pembalakan liar kayu alam oleh beberapa masyarakat yang memanfaatkan untuk bahan bangunan atau perabotan rumah tangga.
- Kebakaran hutan dan lahan dikarenakan pembukaan perkebunan Masyarakat.
- Perlunya penanganan segera dengan penyebaran enceng gondong secara eksplosif, karena ekspansi agresifnya tanpa kontrol telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang signifikan. Pertumbuhannya yang cepat dan kemampuannya untuk menutupi permukaan air dengan rapat telah menimbulkan berbagai konsekuensi negatif bagi kehidupan air, antara lain menghambat arus air, mempegaruhi kualitas air, tempat berkembang nyamuk, merusak estetika dan mempercepat pendangkalan.